Peduli Kanker Tempat Bersahabat Tuk Berbagi Semangat Hidup

pink-ribbon-1751875_640

Informasi tentang kanker masih tidak utuh, hanya sebagian saja yang aku pahami.  Bahkan, aku tidak mengerti mengapa ada penyakit seperti itu.  Hingga pada suatu hari, aku mendengar sendiri dengan kedua telingaku kala dokter memvonis diriku menderita kanker payudara stadium 3.  Walaupun, dokter menyampaikan kabar itu dengan santai nyaris tanpa tekanan namun tetap saja air mata mengalir dari sumbernya membasahi pipiku.

Semenjak kanker menyapa diriku seolah kehidupanku berubah total.  Ada takut, sedih dan gundah yang diam-diam melancarkan makar mengambil alih kebahagianku seakan bumi berhenti berputar.  Aku sendiri nyaris lupa kapan terakhir kalinya tersenyum.  Apakah penyakitku bisa sembuh? Atau Aku akan meninggal dalam waktu dekat? Jika Aku wafat lantas bagaimana dengan kedua buah hatiku, siapa yang akan merawat mereka? Kenapa aku yang dipilih menderita penyakit kanker? Berjuta tanya selalu menebar kecemasan tanpa jawab.

Selepas sholat Ashar, Aku mengadu pilu kepada Sang Robb dan memanjatkan doa-doa terbaik dengan khusyu.  Tanpa Aku sadari, Namira, putri bungsuku yang baru berumur 4 tahun menghampiri dan mengusap air mataku.

“Bunda kenapa sedih?” tanyanya polos.  Serta merta Aku memeluknya erat, tangisku semakin keras hingga tubuhku berguncang.

Aku sangat bersyukur karena suamiku terus memberi semangat agar aku kuat menghadapi penyakitku.  Beliau pula yang mengenalkan diriku dengan komunitas peduli kanker.  Sebuah komunitas yang memfasilitasi penderita kanker untuk berbagi rasa, saling mendukung dan menyemangati.  Dokter Siska, salah satu fasilitator yang energik dan cantik tak pernah bosan memberi motivasi kepadaku dan teman-teman.  Beliau juga menjelaskan secara gamblang tentang kanker.  Informasi yang disampaikannya membuka wawasan bagiku bahwa kanker dapat disembuhkan.  Kemajuan teknologi dan ilmu medis sudah menemukan berbagai terobosan terapi untuk memerangi kanker.

Ajang kumpul-kumpul dengan sesama penderita kanker dan para fasilator di komunitas peduli kanker dijadwalkan sebulan sekali, Sabtu minggu ketiga.  Pertemuan yang selalu Aku rindukan karena di tempat itulah Aku dapat mengisi semangat hidupku.  Berada di suatu komunitas bersama wanita-wanita dengan nasib sama seakan mengajari diriku bahwa Aku tidak sendiri.  Perlahan-lahan Aku mampu mengumpulkan serpihan kebahagianku yang pernah hancur.  Aku terus melakukan swasugesti, kanker tidak akan menghentikan kehidupanku.  Hati yang bahagia merupakan obat terbaik untuk penyakitku.

Aura keceriaan mulai memancar kembali dari wajahku.  Kini, Aku sudah bisa menemani Kayla dan Namira bermain seperti dulu sebelum Aku sakit.  Kami pun dapat tertawa bersama lagi.  Kesedihan serta rasa cemas yang sempat menyelimuti rumah kami telah pudar.  Ah… benar kiranya sebuah pepatah “Ibu Bahagia Maka Keluarga pun Bahagia”.

Operasi pengangkatan kelenjar payudara bagian kananku selama 4 jam berjalan lancar.  Luka sayatan ditutup menggunakan kulit bagian tubuh yang lain.  Sebenarnya, masa kritis yang harus dilewati penderita kanker bukan hanya selama operasi saja.  Justru pascaoperasi menjadi masa genting yang harus diperhatikan.  Penderita yang memiliki semangat hidup tentu akan mampu melewati masa kritis dan pulih lebih cepat dibandingkan penderita tanpa semangat hidup.  Lagi-lagi, Aku harus bersyukur karena dikelilingi keluarga yang terus mendukungku dan teman-teman dari komunitas peduli kanker.  Mereka secara bergantian membesuk diriku dan terus menyuplai motivasi dan energi untuk sembuh.

Dokter Siska menyarankan setelah pulih pascaoperasi sebaiknya aku melakukan kegiatan yang bisa dan senang aku lakukan.  Menurut beliau, menggeluti hobi dan menyediakan waktu sendiri (me time) dapat membuatku selalu berpikir positif sehigga Aku tetap optimis menjalani kemoterapi sebagai bagian pengobatan berikutnya.  Sempat bingung juga memilih aktivitas yang paling aku sukai dan bisa dilakukan dengan kondisi tubuh tak sehat.  Pada akhirnya, Aku memutuskan untuk membuat camilan sehat dan menanam sayur organik sebagai “me time”.  Entahlah…Aku sendiri merasa takjub kegiatan menanam sayuran membuatku sangat bergairah dan tertantang untuk terus menambah koleksi jenis sayuran.  Apalagi, suami serta anak-anak turut berkebun di lahan yang sempit.  Kami merasa menemukan kegiatan yang berkualitas, menyenangkan dan membahagiakan.

Sementara kegiatan membuat camilan sehat hanya Aku lakukan sebulan sekali.  Kue-kue hasil masakanku selalu Aku bagikan ke teman-teman komunitas peduli kanker kala pertemuan rutin.  Aku turut bahagia melihat teman-teman menikmati masakanku dengan lahap.  Kami benar-benar merasa hidup sangatlah berarti dan harus tetap optimis menghadapi masa depan.

Selain melakukan aktivitas yang menyenangkan, Aku tak lupa untuk terus meningkatkankualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT.  Bukankah Allah telah berfirman “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong”.  Aku menganggap bahwa penyakit yang aku derita sebagai cobaan agar Aku senantiasa bersabar dan mendekatkan diri kepada Allah.  Sesungguhnya semua yang Allah takdirkan untuk diriku merupakan yang terbaik.  Semoga penyakit ini mampu menghapus dosa-dosaku.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. lendyagasshi says:

    Syafakillah, mba Anit.
    Semoga Allah memudahkan kesembuhan dan menguatkan mba Anit selalu.

    Saya mengenal beberapa sahabat cancer fighter.
    Dan saya kagum, mereka sangat humble dan terbuka menceritakan masalah serta solusinya.

    Ini yaa, mba,,,terapi kebahagiaan.
    Dengan berbagi, kita akan semakin berbahagia.

    Like

    1. terima kasih doanya teh Lendy. yang sakit kanker payudara mbak saya. Jadi ini kisah mbak saya.

      Like

  2. roosmadewi says:

    Bertanam sayuran organik menjadi me time yang menakjubkan

    Wow Subhanallah keren ini artikel banyak jempol dweh ya.

    Like

    1. Wah senengnya, Bunda mampir ke rumahku. Iya, Bun seru banget nanam sayuran, bisa panen. He..he..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s